Pimpinan DPRD Kerinci Diperiksa
Terkait Unjuk Rasa Anarkis
Polres Kerinci mulai membidik anggota DPRD Kerinci yang diduga terlibat aksi unjuk rasa anarkis di Sungaipenuh, Kerinci. Setelah menerima surat izin dari gubernur sehari sebelumnya, kemarin (8/1) polisi langsung memeriksa empat anggota Dewan.
Dua dari empat anggota Dewan yang diperiksa adalah unsur pimpinan, yakni Ketua DPRD Nasrun Madin dan Wakil Ketua Z Arifin Adnan. Dua lagi Ketua Komisi I Ruslan BK dan anggota Komisi I Tabril Dahlan.
Selain mereka berempat, polisi juga akan memeriksa dua anggota DPRD lainnya. Namun pihak Polres Kerinci belum mau membeberkan nama mereka. Menurut informasi, dua orang itu adalah Said Abdullah dan Novantri, anggota Dewan yang disebut-sebut terlibat dalam aksi unjuk rasa yang berujung pada perusakan Umah Uhang Empat Jenis (Balai Adat Kerinci) tersebut.
Pada pemeriksaan kemarin, Nasrun Madin datang ke Mapolres Kerinci sekitar pukul 09.30 WIB. Mengenakan seragam DPRD Kerinci, saat tiba di Mapolres, Nasrun langsung masuk ke ruangan Reserse Kriminal (Reskrim). Setengah jam kemudian, Wakil Ketua DPRD Kerinci Z Arifin Adnan juga datang sendirian. Sementara Ruslan BK datang bersama Tabril Dahlan.
Proses pemeriksaan keempat anggota DPRD Kerinci itu berlangsung sekitar 3,5 jam. Pukul 13.00 WIB, mereka keluar dari ruang pemeriksaan. Ketika dicegat wartawan, Z Arifian Adnan, Nasrun Madin, dan Tabril Dahlan enggan membeberkan materi pemeriksaan. Mereka terlihat tergesa-gesa meninggalkan Mapolres Kerinci. “Yang jelas kami diperiksa sebagai saksi terkait aksi unjuk rasa anarkis di Gedung Empat Jenis lalu,” ujar Z Arifin Adnan sambil berlalu.
Nasrun Madin menambahkan, sepanjang sesuai jalur hukum, pihaknya siap memberikan keterangan seputar aksi unjuk rasa yang berakhir anarkis tersebut. “Kami tidak disandera di Gedung Empat Jenis, jadi silakan saja kami diperiksa,” katanya.
Terkait pemeriksaan kemarin, suasana di gedung DPRD Kerinci berjalan biasa. Kemarin sejumlah anggota Dewan disibukkan dengan rapat pembahasan RAPBD 2009. Sejumlah anggota Dewan yang mengaku disandera pengunjuk rasa saat aksi berlangsung, mengaku siap diperiksa.
Kapolres Kerinci AKBP S Sumirat mengatakan, sejak menerima izin dari gubernur untuk memeriksa anggota DPRD Kerinci, pihaknya langsung membuat agenda pemeriksaan. Menurut dia, penanganan kasus unjuk rasa anarkis sudah dilimpahkan ke Polda Jambi. “Di sini (Polres Kerinci, red) hanya tempat pemeriksaan,” jelasnya.
Kasat Reskrim Polres Kerinci AKP Wanneri menambahkan, pihaknya menerima surat izin pemeriksaan anggota Dewan dari gubernur Jambi melalui faksimili, Rabu (7/1) sekitar pukul 12.00 WIB. Menurut dia, izin pemeriksaan tersebut hanya dikeluarkan untuk enam orang, yakni Nasrun Madin, Z Arifin Adnan, Ruslan BK, dan Tabril Dahlan. Yang lain, Wanneri tidak membeberkan. “Dua lagi masih rahasia. Tapi lihat saja besok ketika mereka diperiksa,” ujarnya. Wanneri menegaskan, enam anggota Dewan yang diperiksa dalam waktu dua hari ini statusnya sebagai saksi, bukan tersangka.
Lalu kapan penetapan tersangka? “Kita tunggu saja hasil pemeriksaan dulu. Sementara ini kita belum bisa membeberkan hasil pemeriksaan tersebut,” kilahnya.
Ditanya soal materi pemeriksaan, Wanneri tidak mau membeberkan. “Yang jelas enam anggota Dewan itu diperiksa seputar aksi unjuk rasa yang berakhir anarkis,” ujarnya.
Sebelumnya, informasi keterlibatan anggota DPRD Kerinci dalam unjuk rasa anarkis tersebut sudah tersebar di tengah masyarakat Kerinci. Informasi yang diperoleh dari Polres Kerinci, selain sebagai saksi, ada kemungkinan di antara anggota Dewan yang diperiksa akan diarahkan sebagai tersangka. Saat kejadian, dua di antara anggota DPRD Kerinci, Said Abdullah dan Novantri, diduga ikut menggerakkan massa.
Polisi mengaku memiliki bukti rekaman video yang mengindikasikan keterlibatan dua anggota Dewan itu. Dalam rekaman terungkap, ketika Dewan menggelar rapat di Gedung Balai Adat Kerinci, Nofantri tidak berada dalam ruangan, tapi membaur dengan massa yang berunjuk rasa.
Saat itu ia mengenakan jaket oranye. Setelah demo memanas, Novantri menanggalkan jaket yang membungkus baju safari, lalu duduk mengikuti sidang. Tidak lama setelah itu, kerusuhan besar terjadi. Begitu juga Said. Dia diduga ikut menggerakkan massa dalam demo anarkis itu. Dia berasal dari Desa Semurup.
Sumber: Jambi Independent